Nilai inflasi semakin tinggi dari tahun ke tahun. Hal ini mau tidak mau mengontrol perubahan-perubahan di dunia mulai dari ekonomi, perdagangan hingga politik. Isu-isu yang hangat mengenai kenaikan harga-harga misalnya, menjadi berita yang sangat santer dibicarakan, tak terkecuali di Indonesia.
Belum adanya opsi mengenai bagaimana menurunkan beban subsidi akibat kenaikan harga minyak dunia, menjadi aktor utama dalam kenaikan harga-harga kebutuhan. Selain itu, ditambah krisis politik di Libya dan bencana tsunami yang terjadi di jepang, meskipun tidak berpengaruh secara langsung, namun dampaknya bisa dirasakan dalam perekonomian.
Fenomena yang terjadi ini apabila ditinjau dan direnungi sebenarnya merupakan dampak dari ketergantungan kita akan bahan bakar minyak yang sudah kita ketahui bahwa minyak bumi merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (unrenewable resources). Jaman modern telah mengubah kita menjadi manusia yang penuh ketergantungan.
Perkembangan teknologi yang sangat pesat kebanyakan mengarah pada konsumsi energi yang tinggi. Hal ini tidak disertai dengan melesatnya perkembangan di bidang renewable energi, apabila ada pun jumlahnya tak sebanyak perkembangan di bidang teknologi yang boros energi. Oleh karena itu, sudah saatnya Negara Indonesia ini berpikir untuk menjadi pioneer dalam pengembangan renewable energi.
Jiwa teknopreneurship yang dibangun di sekolah-sekolah, khususnya perguruan tinggi, sudah semestinya mengarah kesana. Wadah untuk pengembangan sudah ada yaitu dari mulai dukungan pemerintah pada pemanfaatan jarak pagar sebagai biodiesel beberapa tahun lalu. Hal ini disambut positif oleh para petani di beberapa daerah, namun sekarang, program itu tinggal nama. Seperti biasa, alasan klasik yang dibuat adalah karena harga biji jarak yang tergerus inflasi. Hasil yang maksimal tidak disertai dengan penawaran harga yang tinggi oleh industri, hal ini membuat para petani memilih komoditas lain.
Kontras sekali dengan keberadaan BBM, jika kita tinjau lebih jauh bagaimana pemerintah mati-matian memikirkan kebijakan subsidi BBM sementara program minyak nabati (biodiesel) terkapar tak disentuh. Pemerintah lebih memilih mensubsidi BBM daripada mengembangkan teknologi minyak nabati. Mungkin untuk saat ini pemerintah masih tenang-tenang saja, namun bila dilihat ke depan saat BBM mulai habis produksinya di dunia dalam beberapa tahun atau puluh tahun ke depan. Maka penyesalanlah yang akan didapat karena menyia-nyiakan kelimpahan sumberdaya alam nabati yang diberikan Tuhan.
Semoga dengan wacana ini kita bisa menyadari betapa penting mengembangkan teknologi yang menghasilkan renewable energy. Dan semoga pemerintah dapat memperhatikan dan mengangkat kembali teknologi minyak nabati sebagai biodiesel sehingga Indonesia bisa menjadi raja minyak nabati di masa mendatang. Amiiinnn...